Bisnis Sampah

Melintasi jalan kecil di samping Krueng Aceh, Banda Aceh, terlihat pemandangan yang sedikit berbeda. Rumah-rumah kayu terbuat seadanya. Bau busuk menyeruak dari tumpukan sampah yang menggunung. Orang-orang berbaju kumal pun sibuk mengais sampah sore itu.
Oleh: Mellyan

Waktu telah menunjukkan pukul enam sore. Manusia-manusia perkasa itu masih berada di atas tumpukan sampah seluas lima kali lapangan bola. Mereka mencari sesuatu yang berharga di antara barang yang dianggap tidak berguna bagi sebagian besar orang. Demi mempertahankan hidup, bekerja di bawah terik matahari, bahkan terkadang di bawah guyuran hujan adalah hal yang biasa bagi mereka.

Bahkan anak-anak juga terlihat di tempat itu. Wajah-wajah polos itu terlihat begitu menikmati hal tersebut. Mereka bermain, tertawa, berlarian di atas tumpukan sampah dan sesekali begitu serius melakoni pekerjaan mereka.

“Kami kerja pulang sekolah, orang tua kami pemulung di sini, karena sudah biasa jadi ngak terasa capek. Senang karena bisa main-main,” ujar Rizal, salah seorang dari anak-anak tersebut.

Dari setengah perjalanan menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA), kita akan mendapati beberapa area pembuangan sampah yang tidak begitu luas. Hingga ke ujung jalan sebelum Tempat Pengolahan Tinja (TPT), baru terlihat TPA yang paling luas. Di TPA tersebut tidak hanya sampah, juga ada sekitar 15 alat berat yang digunakan untuk meratakan tumpukan sampah.

Selain tempat pembuangan sampah, juga terdapat tumpukan-tumpukan tanah tsunami seperti bukit-bukit kecil mencapai ketinggian 10 meter. Selain itu, di pinggir TPA tersebut terdapat pembatas setinggi 8 meter dan merupakan tanah pembuangan tsunami yang diangkut dari kota.

“Sebelum ada pembatas itu, dari sini langsung bisa melihat ke laut lepas,” ujar Halimah, salah seorang pemulung. TPA itu memang terletak di pinggir laut.

“Sebelum tsunami, TPA di Kampung Jawa ini tidak terlalu luas dibandingkan sekarang,” tambah Halimah.

Hari semakin sore, namun para pemulung berjumlah 25 orang belum beranjak dari tempatnya. Seakan bau busuk, kotoran dan sampah, tambang emas bagi mereka.

“Bau seperti ini sudah biasa, kalau tidak bau malah kami tidak suka,” salah seorang pemulung bergurau mengenai bau tak sedap di TPA itu, sambil terus membongkar tumpukan sampah.

“Sebenarnya, pemulung di TPA Kampung Jawa ini berjumlah 45 orang, tetapi karena tidak semuanya datang maka berjumlah kurang dari 45 orang,” jelas Halimah.

“Saya sudah tiga tahun bekerja di sini, untuk tambahan biaya sekolah anak. Kami sekeluarga bekerja di sini. Saya dan suami, biasanya dari pagi sudah ada di sini, tapi anak-anak sepulang sekolah baru ke sini untuk bantu-bantu,” ujar Halimah yang berasal dari Jeuniep, Kabupaten Bireuen.

Dalam satu hari, mereka biasanya bisa mengumpulkan 700 sampai 800 kilo gram sampah. Mulai dari plastik, besi, kertas HVS, koran, kuningan dan sampah-sampah selain sampah organik (sampah basah yang tidak bisa didaur ulang). Setelah sampah-sampah tersebut dikumpulkan, mereka menjualnya pada para agen kecil yang ada di sekitar TPA. Untuk masing-masingnya mempunyai harga yang berbeda.

Misalnya besi, para agen membelinya dengan harga Rp 6000 perkilo gram, kertas HVS Rp 600 perkilo gram. Berbeda dengan kertas koran, jauh lebih murah, hanya Rp 300 perkilo gram. Untuk kaleng bekas minuman ringan, bisa dihargai Rp 10.000 perkilo gram. Sedangkan untuk kuningan bisa lebih mahal, Rp 45.000 perkilo gram. Dalam satu hari mereka bisa mengumpulkan uang sekitar Rp 50.000.

“Kami juga pernah dapat emas di sini, walaupun sedikit tapi itu rezeki luar biasa,” kata Halimah. Setelah bekerja beberapa tahun, sekarang ia sudah menjadi agen yang menampung barang dari para pemulung, kemudian disalurkan ke agen yang lebih besar. “Saya cuma agen kecil-kecilan,” ujar Halimah merendah.

Di TPA juga ada tempat pengolahan sampah organik yang terletak tidak jauh dari TPA. Tempat yang terbuat dari kayu dan beratapkan rumbia itu bisa menghasilkan pupuk hingga ratusan kilo perhari. “Jadi kalau sudah sampai ke sini, semua bisa dimanfaatkan kembali,” ujar Hanafi suami Halimah.

Setelah bekerja sekitar tiga tahun, Halimah yang mempunyai lima orang anak ini sudah bisa membeli sebuah mobil pick-up dan sepeda motor. Serta sebuah rumah mungil yang letaknya juga masih di kawasan Kampung Jawa. Bahkan anak sulungnya, Ahmadi sekarang tercatat sebagai mahasiswa tingkat dua di salah satu perguruan tinggi di Banda Aceh. Sedangkan adik-adiknya bersekolah di SLTA dan SLTP Negeri Banda Aceh.

“Selain bekerja di TPA ini, saya juga berjualan nasi dan makanan ringan lainnya. Tapi khusus untuk para pekerja di sini saja, satu hari bisa habis 40 bungkus. Hitung-hitung untuk menambah penghasilan,” Kata Halimah sambil tersenyum. “Alhamdulillah keadaan kami sekeluarga semakin membaik setelah bekerja di TPA ini,” tambah Halimah.

Sebuah perjuangan panjang yang untuk mengantarkan anak-anaknya menuju keberhasilan. Ketika sebagian besar orang masih terlelap di balik selimut tebal dan masih dibuai mimpi-mimpi indah, para pemulung itu harus bangun dan bekerja di tempat bau dan penuh kotoran.

Seperti halnya Halimah, kegiatan serupa juga dilakukan Muhammad Is, seorang agen kecil di Simpang Tiga Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, bisa mengumpulkan barang hingga 42,182 ton dalam satu bulan. Barang yang dikumpulkan ini, ia beli dari pemulung dari kawasan Pidie dan Pidie Jaya. Harga pembeliannya pun cukup bervariasi, mulai dari Rp 300 sampai Rp 16.000 untuk masing-masing jenis barang.

Barang-barang tersebut kemudian dijual kembali ke agen besar di Medan dengan harga Rp 450 sampai Rp 19.000 untuk setiap jenis barang. Keuntungan yang diperoleh mencapai 30-40 persen dari jumlah harga barang. “Lumayanlah untuk membiayai kehidupan keluarga,” ungkap Muhammad.

“Saya tidak mencari barang lagi, karena sudah ada yang cari. Nanti waktu mereka pulang, saya tinggal terima barangnya saja”, kata Muhammad, sembari memperhatikan becak barunya yang diberikan Yayasan Citra Aksi Partisipatif (YCAP), di Banda Aceh, beberapa waktu lalu.

Ia memberikan mereka modal dan becak barang kepada para pemulung untuk cari barang di rumah-rumah penduduk dalam perkampungan.

Sayangnya, di kota Banda Aceh, jumlah pengusaha sampah ini tidak terdata di pemerintahan kota. Berbeda dengan daerah Pidie dan Pidie Jaya. Berdasarkan data dari Disperindag Pidie, jumlah Private Collector (penampung lapak besar) yang sudah memiliki izin usaha berjumlah sembilan orang. Sehingga dalam setiap satu ton pengiriman barang jenis sampah organik, para pengusaha harus membayar sepuluh ribu rupiah kepada Disperindag.

Para pengusaha sampah di Pidie turun langsung ke masyarakat untuk mencari barang jenis sampah organik. Setelah para agen tetap (penampung lapak kecil) dan agen bebas mengumpulkan sampah dari masyarakat, baru kemudian dijual kepada penampung lapak besar. Dari penampung lapak besar, kemudian diteruskan lagi ke pengusaha barang bekas di Medan. Setelah barang masuk ke agen barang bekas, kemudian barang-barang tersebut kemudian diteruskan ke pabrik daur ulang di Medan.

Menurut data dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan, kota Banda Aceh, volume sampah perkendaraan yang masuk ke TPA Kampung Jawa pada tanggal 1 sampai 6 Januari 2008, volume rata-rata sampah 4,0 meter kubik (m3) per armada, jumlah keseluruhan mencapai 2.043,0 m3. Dengan jumlah sampah rumah tangga (SRT) sebesar 2,043.0 m3, sampah batu (SB) sebesar 0 m3, jenis sampah kayu (SK) sebesar 0 m3, jenis sampah sendimen atau lumpur yang mengendap (SSD) sebesar 17 m3 dan jenis sampah tsunami (ST) sebesar 0 m3.

Pada 7 sampai 12 Januari 2008, volume sampah rata-rata 6,0 meter kubik (m3) per armada, dengan jumlah keseluruhan 2.210,7 m3. Dengan jumlah sampah rumah tangga (SRT) sebesar 2210.7 m3, sampah batu (SB) sebesar 0 m3, jenis sampah kayu (SK) sebesar 0 m3, jenis sampah sendimen (SSD) sebesar 12 m3 dan jenis sampah tsunami (ST) sebesar 0 m3.

Tanggal 13 sampai 18 Januari 2008, volume rata-rata sampah 6,5 m3 per armada, dengan jumlah keseluruhan 2.328 m3. Dengan jumlah sampah rumah tangga (SRT) sebesar 2328.0 m3, sampah batu (SB) sebesar 0 m3, jenis sampah kayu (SK) sebesar 0 m3, jenis sampah sendimen (SSD) sebesar 6 m3 dan jenis sampah tsunami (ST) sebesar 0 m3.

Pada 19 sampai 24 Januari 2008, volume rata-rata sampah 5,5 m3 perarmada, jumlah keseluruhannya 2.200,5 m3. Dengan jumlah sampah rumah tangga (SRT) sebesar 2200.5 m3, sampah batu (SB) sebesar 0 m3, jenis sampah kayu (SK) sebesar 0 m3, jenis sampah sendimen (SSD) sebesar 24 m3 dan jenis sampah tsunami (ST) sebesar 0 m3.

Pada 25 sampai 31 Januari 2008, volume rata-rata sampah 5,5 m3 perarmada, dengan jumlah keseluruhan 2.472,7 m3. Dengan jumlah sampah rumah tangga (SRT) sebesar 2472.7 m3, sampah batu (SB) sebesar 0 m3, jenis sampah kayu (SK) sebesar 0 m3, jenis sampah sendimen (SSD) sebesar 34.5 m3 dan jenis sampah tsunami (ST) sebesar 0 m3.

Sedangkan pada bulan Februari 2008, terhitung tanggal 1 sampai 6, volume rata-rata per armada mencapai 5,5 m3 dalam satu harinya, dengan jumlah keseluruhan 2.183,0 meter kubik (m3). Dengan jumlah sampah rumah tangga (SRT) sebesar 2,183.0 m3, sampah batu (SB) sebesar 0 m3, jenis sampah kayu (SK) sebesar 0 m3, jenis sampah sendimen (SSD) sebesar 1,5 m3 dan jenis sampah tsunami (ST) sebesar 0 m3.

Pada 7 sampai 12 Februari 2008, volume sampah mencapai 2.147,5 m3, dengan volume rata-rata 4 m3 per armada kebersihan. Dengan jumlah sampah rumah tangga (SRT) sebesar 2,147.5 m3, sampah batu (SB) sebesar 0 m3, jenis sampah kayu (SK) sebesar 0 m3, jenis sampah sendimen (SSD) sebesar 11,5 m3 dan jenis sampah tsunami (ST) sebesar 0 m3.

Pada 13 sampai 18 Februari 2008, volume sampah rata-rata mencapai 5,5 m3 per armada, dengan jumlah keseluruhan 2.184,0 m3. Dengan jumlah sampah rumah tangga (SRT) sebesar 2,184.0 m3, sampah batu (SB) sebesar 0 m3, jenis sampah kayu (SK) sebesar 0 m3, jenis sampah sendimen (SSD) sebesar 17 m3 dan jenis sampah tsunami (ST) sebesar 0 m3.

Pada 19 sampai 24 Februari 2008, volume sampah rata-rata mencapai 5,5 m3 perarmada, dengan jumlah keseluruhan 1,403.5 m3. Dengan jumlah sampah rumah tangga (SRT) sebesar 1,403.5 m3, sampah batu (SB) sebesar 0 m3, jenis sampah kayu (SK) sebesar 0 m3, jenis sampah sendimen (SSD) sebesar 13.5 m3 dan jenis sampah tsunami (ST) sebesar 0 m3.

“Titik pembuangan ada sekitar 60 titik yang diangkut dua sampai tiga kali sehari,” ujar Uswansyah, Kasubdin Operasional DKP, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Banda Aceh.

Untuk pengambilan sampah, biasanya dilakukan sebanyak empat kali dalam sehari. Pada pagi hari, siang, sore dan malam hari. Demikian Uswansyah menjelaskan.

“Khusus untuk wilayah pasar yang ada di pusat kota Banda Aceh, kita melakukan pembersihan pada malam hari. Karena pada siang hari susah untuk dibersihkan, ramai sekali orang” ungkap Uswansyah.

Menurut Uswansyah, volume sampah di Banda Aceh saat ini relatif rendah jika dibandingkan dengan sampah pasca tsunami. “Sakarang sampahnya sudah agak berkurang, karena pihak dinas melakukan operasi ke setiap desa."

Untuk petugas kebersihan sendiri, Uswansyah mengatakan, semuanya berjumlah lebih kurang 400 orang.

“Dari 400 orang petugas tersebut, kita bagi dalam empat shif. Dalam satu shif itu bisa berjumlah enam sampai sepuluh orang petugas,” jelas Uswansyah sambil memperlihatkan data pengumpulan sampah.

Ternyata kegiatan bisnis sampah ini juga menarik perhatian sebahagian NGO dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal maupun luar. Salah satunya Yayasan Citra Aksi Partisipatif (YCAP). Saat ini, YCAP telah membina masyarakat untuk memamfaatkan sampah yang biasanya terbuang percuma. YCAP memfokuskan kegiatannya di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya.

“Saat ini, penampung lapak besar yang ada di Pidie itu berjumlah sembilan orang. Mereka ,mendapatkan barang yang telah dikumpulkan oleh agen dengan cara menjemput ke lokasi,” ujar Manager Program YCAP, M. Rizal Syah.

M. Rizal Syah mengatakan, setelah barang penuh terkumpul di gudang, kemudian dijual ke Medan dengan taksiran rata-rata 16 sampai 18 ton untuk satu kali pengiriman. Dan satu bulan bisa mencapai tiga sampai empat kali pengiriman.

“Untuk kategori penampung itu ada tiga, yang pertama (penampung lapak besar), yang kedua agen tetap (penampung lapak kecil) dan yang ketiga agen bebas (pemulung tanpa ikatan),” jelas M.Rizal.

Untuk penampung lapak kecil yang terikat modal usaha dengan penampung lapak besar, berjumlah tiga puluh dua orang. Penampung lapak kecil ini, mencari dan membeli barang langsung ke masyarakat. Selain itu, mereka juga membeli barang dari agen bebas. Setelah mereka menjualnya ke penampung lapak besar dengan cara mengantar sendiri atau dijemput ke lokasi, tergantung jumlah barang yang dihasilkan.

Sedangkan untuk agen bebas (pemulung tanpa ikatan), berjumlah delapan belas orang. Mereka mencari dan membeli barang lengsung ke masyarakat. Kemudian menjual barang ke agen tetap dan tergantung dari hasil negosiasi harga barang.

“Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pemulung, kandala utama yang sering mereka hadapi dalam bisnis ini, bermunculannya agen-agen dari Medan yang membeli barang dari agen yang ada di Pidie di atas harga normal pasaran,” tutur M.Rizal.

Kondisi ini membuat penampung yang ada di Pidie agak kesulitan untuk mendapatkan barang seperti biasanya. Populasi perkembangan sampah setiap pertahunnya, menurut M.Rizal, sangat sulit untuk didata. Karena para pemulung tidak memiliki data akurat tentang jumlah barang masuk dan keluar.

Tempat pembuangan sampah memberi berkah yang besar kepada para pemulung. Tidak pernah terjadi perkelahian, kecemburuan atau pun rebutan sampah di sini. Semuanya telah diatur oleh seorang pemimpin yang mereka panggil toke (bos). Para pemulung itu diberi pos masing-masing, untuk mencegah terjadi perkelahian, seperti yang sering terjadi di TPA luar Aceh. Bahkan pemulung yang ada di Medan, ramai “hijrah” ke Aceh.

“Kalau di Medan, satu kardus saja bisa berkelahi sampai babak belur. Tapi di Aceh, semuanya telah diatur dengan baik,” kata seorang pemulung asal Medan, sambil terus sibuk mengais sampah.

Azan maghrib mengalun, terdengar sayup-sayup hingga ke TPA. Para pemulung mulai bersiap untuk kembali ke rumah masing-masing. Menyongsong hari esok dan kembali merajut mimpi yang lebih indah.

Burung-burung yang sejak pagi bertengger di pembatas TPA pun mulai berterbangan, kembali ke sarangnya, untuk kembali lagi esok hari mencari rezeki bersama para pemulung.***

No Response to "Bisnis Sampah"

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes