Tukang Sol Sepatu

AKIBAT frustasi sang ayah akan menikah lagi, ia lari dari rumah dan meninggalkan bangku sekolah. Hingga akhirnya ia memutuskan menjadi tukang sol sepatu keliling di kampungnya, Matangkuli Aceh utara. Karena Profesi ini pula ia dapat mengantarkan keenam anaknya mengecap pendidikan hingga ke perguruan tinggi.

Namanya Rusli A. Rahman. Ia mulai menjadi tukang sol sepatu tahun 1971 saat ongkos nya masih Rp. 300-Rp.400., perpasang. Namun, hingga saat ini di usia senjanya ia masih setia melakoni profesinya.

Setelah pindah dari kampungnya tahun 2000, ia mangkal di peunayong, kemudian pindah ke samping mesjid jamik Unsyiah bersama tujuh orang lain yang seprofesi dengannya. Kulitnya hitam, nada bicaranya ramah serta murah senyum, dengan kacamata yang sesekali melorot dari tempatnya. Entah karena usianya telah lanjut atau pengalamannya dibidang sol sepatu, ia dipanggil ”ayah”oleh rekan-rekannya.

Ayah mempunyai beberapa orang teman yang ia ajarkan menjahit sepatu. Biasanya ia membawa muridnya saat ia sedang menjalani pekerjaanya, setelah mandiri dan bisa menjahit dengan rapi, sang murid akan dilepas untuk menjadi tukang sol  yang mandiri.

lon ureung awam, nyan yang jeuet lon peurunoe. Meunyo ta jok peng siat ka abeh, meunyo ta jok ilme leubeh meuguna (saya orang awam, itu yang bisa saya ajarkan. Kalau kita berikan uang sebentar saja sudah habis, kalau kita beri ilmi lebih berguna) ujar ayah sambil menjahit sepatu pelanggannya.

Tukang sol sepatu yang lain juga sering meminta bantuannya jika sepatu atau sendal tersebut sudah terlalu parah rusaknya. Dalam satu hari rata-rata ayah mendapat 10-20 orang pelanggan,

Walaupun saat ini harga barang terus melonjak, ia tetap bertahan. Sebelum pemerintah mengumumkan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), ongkos perbaikan sepasang sandal atau sepatu masih Rp.5000, kenaikan BBM yang mempengaruhi harga barang lain juga berdampak pada biaya sol sepatu menjadi Rp.6000,. sedangkan untuk jenis kulit naik dari Rp. 7000., menjadi Rp.8000,. Naiknya ongkos jahit juga dipengaruhi oleh naiknya benang jahit sepatu. Dari Rp.3000 menjadi Rp.4500 pergulung.

Sepatu atau sendal bisa diperbaiki hingga rusak yang sudah parah. Dengan cara mengganti tapak bawah atau sol dalam. Untuk sepatu atau sendal yang rusak berat dan bahan yang digunakan adalah kulit, paling tinggi dikenakan biaya Rp.55.000,. Dengan harga tapak berkisar Rp.20.000 hingga Rp.30.000,. khusus tapak sepatu bola, naik dari Rp.15.000 menjadi Rp.18.000,.

Dalam satu bulan ayah yang pernah sekolah hingga tingkat pendidikan guru agama (PGA) ini, mendapat keuntungan bersih sebanyak satu juta rupiah. Kemudian ia kirimkan untuk istri dan anak bungsunya yang masih kuliah diperguruan tinggi negeri di kampungnya.

meunyoe ureueng hana harta, pue mantoeng jeuet takeureuja,. Selama jaroe mantong teuga, jeut ta mita raseuki(kalau orang nggak ada harta, bisa kerja apa saja. Selama tangan masih kuat, masih bisa cari reaeuki),”  ujar kakek 6 cucu ini sambil tangannnya dengan cekatan menjahit sepatu.

Selain ayah, Zulkifli atau lebih dikenal dengan panggilan Bang Dun juga berprofesi sebagai tukang sol sepatu.Ia duduk diatas kursi kayu panjang, di hadapannya terdapat sebuah meja dengan tumpukan sepatu dan sendal bekas. Laki-laki berkulit hitam serta tinggi ini baru dua tahun menjadi tukang sol sepatu, sebelumnya ia adalah supir labi-labi trayek Darussalaam-pasar Aceh.

Tukang sol sepatu menjadi pilihan hidup yang harus dijalaninya setelah kendaraan umum (labi-labi) yang menemaninya selama 15 tahun mencari nafkah ia jual. Tepatnya saat ia bersama istri dan kedua anaknya mengungsi selama satu tahun di tenda samping mesjid Unsyiah saat tsunami menghancurkan rumah sewaannya di depan puskesmas rukoh.

”Saya menjadi tukang sol sepatu karena jumlah pelanggan kendaraan umum semakin berkurang. Karena ramai yang sudah punya kendaraan sendiri” ujarnya.

Namun, tingginya harga barang tidak mempengaruhi jumlah pelanggan yang datang padanya.

”Sebelum dan naik harga barang, ada sekitar 10 sampai 15 orang yang datang memperbaiki sepatunya, sekarang juga sama, saya sudah punya pelanggan tetap,” ungkap Bang Dun.

Pendapatan bersih yang diperolehnya juga masih tetap. Sekitar Rp.70.000., perhari. Tergantung jumlah pelanggan yang mengambil sepatu atau sandal yang diperbaikinya.

”Kadang-kadang setelah diantar, baru dua atau tiga bulan mereka ambil sepatunya. Itu yang membuat kami rugi. Di rumah ada dua karung sepatu yang sudah saya jahit belum diambil,” keluh pria asal Lamreueng Aceh Besar ini.

”Kalau mengenai ongkos perbaikan, naik  karena harga benang dan lem juga meningkat. Kalaupun kami menaikkan ongkos jahit sepatu, itu juga dengan pertimbangan,” tambahnya.

Agar usahanya terus berjalan, setiap minggunya Bang Dun harus belanja mengeluarkan modal sebanyak Rp.70.000.,

”Saya mulai menyukai pekerjaan ini, karena bukan suatu hal yang sulit.  Karena yang diperlukan adalah keyakinan, ketekunan, dan kemauan. Kalau mau memperhatikan dalam waktu tiga hari pasti sudah bisa, walaupun belum rapi. Jadi ngak perlu les, Saya juga lihat dari orang lain,” ujarnya sambil tertawa.

Saat ini ia mempuyai satu cita-cita mulia yang sedang diperjuangkan. Yaitu dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi.

”kalau saya hanya lulus Sekolah menengah Pertama (SMP), anak saya harus punya pendidikan tinggi, nggak boleh putus ditengah jalan karena biaya, seperti saya dulu” harapnya.

Keinginannya yang lain adalah bisa mencari nafkah dan bekerja tanpa khawatir akan digusur.

Bek lé di lèt-lèt. Kamoe mita raseuki,hana di joek tempat khusus untuk kamoe, tapi malah digusur (jangan di kejar-kejar lagi kami cari rezeki, nggak diberi tempat khusus tapi malah digusur),”ujarnya kesal.

”Disini kami ngak dipungut pajak. Tapi kalau memang diminta akan kami beri. Karena itu kan sudah hak. Mungkin mereka pungut pajak untuk biaya kebersihan, hak orang harus kita berikan,”katanya laki-laki kelahiran 1965 ini.

Selain menjual jasa sebagi tukang sol sepatu, ia juga menjajakan Koran Serambi dan Probaha untuk tambahan biaya hidup. Dari menjual Koran, ia mendapat keuntungan Rp.20.000 perhari.

Di bawah pohon asam di samping mesjid itu, Bang Dun  masih setia menunggu orang menggunakan jasanya. Mulai dari mahasiswa hingga orang-orang yang menggunakan mobil mewah menjadi pelanggannya.

Para pelanggan seperti Cut, seorang mahasisiwi Universitas Syiah Kuala menyatakan keberadaan tukang sol sepatu itu sangat membantunya. Dengan harga yang relative murah sandal atau sepatu yang rusak dapat diperbaiki kembali.

“Saya merasa terbantu, mereka juga sering memberi diskon kepada mahasisiwa seperti saya yang berkantong pas-passan. Selain itu, kalau tiba-tiba sandal atau sepatu rusak ka n ada mereka di dekat kampus, jadi lebih mudah,” ungkapnya.[]

No Response to "Tukang Sol Sepatu"

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes